Get Adobe Flash player

English Section

Jack Cline: Musisi Jazz Sekaligus Mesin Penghancur Dari Udara


Jack Cline (tengah) dengan saxophone. (Aviation History)

 

 

   Musisi jazz umumnya dikenal santun dan sangat menghargai kehidupan. Tapi ketika mereka harus terjun ke medan perang sebagai pilot bomber, seorang musisi jazz ternyata bisa berubah menjadi  mesin penghancur dari udara.

 

   Menjelang keterlibatan AS dalam PD II, suasana Kota Mississippi River masih aman tenteram. Setiap malam lantunan musik jazz terus berkumandang dari sejumlah night club. Tapi suasana kota yang nyaman dan tenteram itu mulai memanas ketika militer AS yang baru saja mendapatkan serangan hebat di Pearl Harbour, menggalang kekuatan tempur untuk diterjunkan ke PD II. Salah satu musisi jazz yang bangkit semangat patriotiknya untuk bertempur adalah Alvin G Jack Cline, yang juga personel dari Iowa National Guard, 34th Infantry Division, 136th Medical Regimental Band.

 

   Sebelum berangkat ke medan perang, Cline berjanji kepada rekan dan penggemarnya untuk kembali lagi bermain musik jazz. I’ll be Back!  Sebuah janji yang membuat nyali kecut mengingat kemungkinan gugur di medan perang sangat besar. Hancurnya pangkalan laut AS di Pearl Harbour disertai gugurnya ribuan pelaut oleh serangan Jepang menunjukkan bahwa kancah PD II benar benar merupakan neraka perang.

 

   Sebagai personel pasukan dari Divisi Medis, Cline mendapatkan sejumlah pelatihan untuk menangani pasukan tempur yang terluka. Mulai dari perawatan patah tulang, membalut luka, operasi medis, dan lainnya. Sesuai rencana, Cline bersama divisinya akan dikirim ke medan tempur Afrika Utara dan sambil menunggu embarkasi mereka disiapkan dulu secara militer di Fort Dix, New York.

 

  Sewaktu menunggu kapal transpor yang akan membawa pasukan Divisi Medis menuju Afrika berlabuh, Cline tertarik dengan bentangan spanduk yang berisi penawaran untuk menjadi pilot di US Army Air Corp Cadet Training Program. Cline yang memang tertarik menjadi pilot kemudian mendaftar dan setelah melalui serangkaian tes dan seleksi, pemain trompet musisi jazz itu diterima.

 

Pendidikan terbang

 

 

 

Pembom B-17 AU AS

 

 Sementara rekan-rekan Cline dalam Divisi Medis sudah diberangkatkan ke medan perang, Cline dan para calon pilot tempur lainnya justru sedang sibuk menjalani latihan terbang. Latihan dasar terbang yang berlokasi di Maxwell Air Force Base, Montgomery, Alabama itu berupa latihan terbang navigasi, membaca peta, mengidentifikasi sasaran berupa kapal laut atau pesawat, karakter pesawat tempur, pemakaian radio, dan lainnya. Usai latihan dasar penerbangan, Cline dan para sejawatnya dikirim ke Florida untuk latihan terbang menggunakan pesawat bermesin tunggal dan kokpit terbuka Fairchild PT 19.

 

  Latihan terbang di Florida ternyata merupakan penerbangan yang berbahaya karena banyaknya burung elang yang terbang bebas. Satu siswa sekolah terbang tewas ketika seekor elang menabrak Fairchild dari depan, merusakkan mesin, dan mengakibatkan pesawat latih itu jatuh meluncur ke darat. Atas peristiwa naas yang dialami rekannya itu, Cline sadar bahwa berprofesi sebagai pilot tempur ternyata memiliki risiko tinggi. Apalagi berdasar kabar yang berhembus dari medan tempur PD II, menekankan kemungkinan seorang pilot bisa kembali dalam keadaan hidup ke negaranya hanya 50%!

 

  Setelah lulus terbang solo pada Juni 1942, Cline dikirim ke Albany, Georgia untuk menjalani pendidikan penerbang tingkat lanjut menggunakan pesawat BT-13. Terbang menggunakan pesawat yang lebih moderen dibandingkan PT-19, Cline dan rekannya sering terbang pada ketinggian 5.000 kaki lalu menukik nyaris menyentuh pepohonan sehingga mengejutkan para petani gandum yang sedang bekerja di darat. Meskipun dilarang keras oleh pelatih, Cline juga kerap terbang menyusuri sungai untuk selanjutnya melintas di bawah jembatan. Suatu keterampilan terbang yang langka dan berisiko tinggi tapi bisa menggembleng nyali seorang penerbang tempur.

 

   Desember 1942, ketika militer AS terus menggencarkan kampanye militer di front Eropa dan Pasifik, Cline yang berpangkat letnan dua dan merupakan 10 besar lulusan sekolah terbang terbaik. Ia ditempatkan di B-17 Transition School di Tennesse. Latihan terbang croos country menggunakan pembom B-17 Flyingfortress untuk menempuh jarak antara negara bagian dan mengarungi cuaca buruk pun dijalani Cline dan rekannya hingga mahir.

 

  Selain menempa diri untuk menjadi pilot pembom yang andal, di Smyrna, Cline juga mendapat jodoh, gadis bernama Mavis yang kemudian dinikahinya menjelang berangkat ke medan perang. Pernikahan Cline dan Mavis sesuai tradisi perwira penerbang militer dihadiri juga para pilot sejawat Cline. Dari Kanada, salah satunya adalah Letnan Penerbang Jay  William. Ketika menyalami Cline, William bilang Cline bakal memiliki tiga anak cewek dan satu cowok. Cline hanya tertawa. Tapi ucapan William rupanya merupakan pesan terakhir karena sebulan kemudian ia tewas saat melaksanakan latihan terbang di Boise, Idaho. Atas gugurnya rekannya itu, Cline makin sadar jika pilot tempur tidak hanya bisa gugur sewaktu bertempur tapi juga saat latihan terbang.

 

    Lulus menerbangkan B-17, Cline selanjutnya bergabung dengan 34th Bomb Group, yang berpangkalan di kawasan Blythe, California. Pesawat pembom yang kemudian diawaki Cline dan krunya adalah tipe B-17 F dengan serial number 329443. Di unitnya yang baru, Cline kembali melaksanakan latihan terbang jarak jauh mengingat tidak lama lagi para personel 34th Bomb Group akan segera terbang menuju Inggris. Tantangan penerbangan jarak jauh itu adalah sergapan awan cumulus dan mempertahankan formasi dalam posisi saling melindungi.

 

   Sebelum persiapan terbang jarak jauh menuju Inggris, sebanyak 19 pesawat B-17 terlebih dahulu singgah di pangkalan Smokey Hills Army Air Base, Salina, Kanada. Kesempatan singgah di Kanada itu juga dimanfaatkan untuk mengadakan perpisahan dengan para keluarga. Mavis hanya bisa melepas Cline dengan isak tangis karena menyadari peluang suaminya untuk pulang ke AS dalam keadaan hidup hanya 50%.

 

  Tepat pada 3 Juli 1943, semua pesawat pembom 34th Bomb Group terbang mengangkasa melintasi Laut Utara menuju Inggris. Konvoi penerbangan B-17 itu sangat berisiko karena tidak ada satu pun pesawat yang dipersenjatai dan bagian vital B-17 juga belum dilapisi plat baja. Jika bertemu pesawat pesawat tempur Nazi Jerman, kerumunan B-17 betul-betul merupakan sasaran empuk. Beruntung dalam penerbangan jarak jauh itu tidak ada satu pun pesawat Nazi yang menghadang dan semua B-17 mendarat selamat di Inggris.

 

   Sebagai kekuatan tempur yang dipersiapkan menghantam pasukan Nazi Jerman yang sedang bercokol di Afrika (Afrika Corps), di Inggris semua B-17 asal 34th tergabung dengan Mediterranean Air Operation 5th Wing dan Twelfth Air Force yang dikomandani Mayor Jenderal Doolittle. Cline merasa sangat bangga memiliki komandan tempur yang pernah melancarkan bombardemen spektakuler ke Tokyo dan dikenal sebagai Doolittle Ride itu.

Dari Inggris, semua B-17 34th selanjutnya terbang menuju Aljazair dan sekali lagi semua B-17 belum bersenjata dan tanpa pelindung lapis baja.

 

   Guna menghindari sergapan pesawat tempur Nazi yang berpangkalan di Perancis, mereka terlebih dahulu terbang menuju Maroko melintasi Laut Atlantik di sisi selatan. Dewi fortuna ternyata masih menyertai 34th. Meskipun semua B-17 mendarat dengan susah payah di landasan yang terik akibat panas gurun, tak ada satu pun pesawat yang mengalami kerusakan.

 

   B-17 yang dipiloti Cline bahkan mengalami over shoot hingga ujung landasan dan membuat kalang kabut para pekerja (ground crew) yang sedang membereskan pangkalan. Semua B-17 selanjutnya dipersenjatai dan dilapisi lempengan baja pada bagian paling vital dan siap melaksanakan misi tempur. (Agustinus Winardi)

 

-- Ikuti tulisan selengkapnya dalam Angkasa edisi Januari 2015 --